Laman

Monday, September 10, 2012

200 Perak Milik Tan Peng Ho


Tan Peng Ho. Tiga suku kata itu yang aku baca di amplop berwarna merah terang yang aku dapatkan di dalam laci meja belajar dekat ruang tamu. Aku tak menyangka itu nama lengkap pamanku yang selalu aku panggil Lik Penggo. Well, jika melihat dari tiga suku kata itu, sangat familiar dengan ejaan suku kata negeri tirai Bambu, Cina. Dan memang tampaknya om ku itu orang Cina kental dengan segala penampakan oriental yang bisa kamu lihat dari sisi manapun.

Saat itu aku sudah duduk di bangku kelas 7 SMP. Aku terdampar di rumah beliau disebabkan suatu hal. Aku satu-satunya anak dari sepasang orang tua keturunan Sragen-Wonogiri yang menuntut ilmu di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Mungkin karena aku seorang perempuan mereka tak sampai hati meninggalkanku di rumah sendiri, walaupun aku mempunyai rumah yang tak jauh dari rumah om ku itu.

Tan Peng Ho telah menikah dengan adik perempuan dari garis keturunan orangtua ayahku. Dan dia resmi menjadi keluargaku jauh sebelum aku dilahirkan. Alhasil, aku mempunyai satu-satunya kerabat berketurunan Cina itu. See? Tuhan Maha Bakat menjodoh-jodohkan, dan mempertemukan mereka dalam biduk rumah tangga yang indah.

Orangtuaku mengantarkanku ke rumah beliau. Sesampainya di sana, dengan segala keramahan yang dimiliki om ku itu, dia menyambut kami dengan hangat. Aku bisa melihat itu ketika dia berbondong-bondong menyuguhkan kami dengan bermacam-macam aneka makanan. Ayahku membuka percakapan dengan mengatakan alasan mengapa aku harus tinggal bersama mereka. Kawan, mungkin aku bisa menghitung jari berapa lama tepatnya aku tinggal bersama orang tuaku sebelumnya. Sangat sedikit dari jumlah normal anak kebanyakan.

Om ku mempunyai tiga orang anak, satu laki-laki dan dua anak perempuan. Dan aku rasa, aku tak akan kesepian. Om ku menjelaskan kepadaku dimana aku bisa menaruh barang-barangku, dan menunjukkan kamarku. Om ku juga tak lupa menjelaskan tentang hal-hal yang harus aku lakukan selama ada di dalam pengawasannya. Mulai dari jam berapa aku masuk sekolah, pulang sekolah, jumlah uang yang harus aku pergunakan,  buku apa yang akan kugunakan, hingga hal-hal yang menyangkut pengeluaran bulanan pribadiku. Om ku menambahkan bahwa dia akan mengajariku mencatat pengeluaran pribadiku untuk memastikan aku belajar kedisiplinan sedari dini. Tampaknya aku harus manggut-manggut tanda persetujuan dan aku bisa melihat betapa puasnya dia menyerahkan diriku kepada beliau. Waktu cepat banget berlalu, tak terasa orang tuaku pamit pulang dan meninggalkanku di sini mulai malam ini. Mataku mulai berkabut.

Bukan untuk pertama kalinya aku bertemu dengan om ku ini. Aku sudah akrab dengannya sejak kecil. Beliau sangat menyukai anak kecil. Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengan beliau, saat itu aku masih balita. Aku diboncengnya keliling kota Sragen, dan ujung-ujungnya ke sebuah toko yang lumayan besar. Satu kotak susu berukuran besar dia belikan untukku. Perlakuan istimewanya itu ditujukan untuk semua kerabatnya terutama yang masih kecil-kecil. Om ku yang baik.

Tanpa terasa aku sudah berbulan-bulan tinggal di rumah beliau. Kegiatan sehari-hariku lumayan padat mengingat aku “numpang” di rumah orang. Walaupun aku dimanjakan om ku itu, aku tak mungkin berongkang-ongkang kaki di rumah ini. Mulai dari bersekolah hingga duduk berjam-jam di depan dua kompor panas membuat kulit sosis, risoles, lumpia, keroket, arem-arem hingga martabak. Yahh,,, om ku membuka usaha kuliner kawan. Selain itu, aku juga membantu mengambil hasil dagangan yang dititipkan di toko-toko kuliner di kota ini.

Aku tak pernah berpikir bahwa menjadi pengusaha industri rumahan seperti ini adalah hal yang rendah. Kalian salah jika berpikir begitu. Aku juga belajar mengutak-utik total modal dan laba yang dapat dikeluarkan dan didapatkan dalam perharinya, hasilnya lumayan untuk memasukkan kedua anaknya ke perguruan tinggi. Dari sini aku belajar untuk mengubah mind set kuno tentang “pengusaha”.

Mungkin aku terlalu usil kali ya, sampai-sampai aku menanyakan alasan beliau mengapa memilih usaha kuliner. Beliau tak tanggung-tanggung bercerita kepadaku tentang profesi awalnya sebelum menikah dengan tanteku. Beliau dulu seorang makelar yang bangkrut. Bangkrut adalah kata yang paling kejam menurutku untuk seorang dermawan seperti beliau. Beliau merintis usaha kuliner dengan bermodalkan majalah yang mencantumkan resep kue-kue gorengan dan memulainya dengan penuh kesabaran bersama tanteku. Seperti yang kulihat saat ini, tak ada guratan-guratan kesedihan saat menceritakan kisahnya kepadaku. Nada suaranya datar-datar saja seakan hal itu tak menjadi masalah untuknya.

Pukul 16.00 wib. Aku sedang ngobrol dengan seorang sahabat yang juga tetangga jika aku tinggal di rumahku sendiri. Ahh,,,kangen juga rasanya karena aku hanya sibuk dengan segala kedisiplinan yang lumayan membelenggu masa kanak-kanakku dan aku harus mengakui aku kangen ketawa ketiwi dengan makhluk satu ini. Dia mengembalikan buku yang sudah lama dipinjamnya. Setelah berceloteh sekian lama akhirnya dia pun beranjak pulang. Ada sepi yang menyelinap di celah-celah keterasinganku di sini. Yahh,,, setidaknya aku bisa bertemu teman-temanku di sekolah.

Aku sedang mengatur buku-bukuku di rak ketika om ku menyapaku dari belakang. “Ta, bukumu dipinjam berapa hari?” saat aku sadar pertanyaan itu muncul, aku menjawab terbata, “2 minggu om”. Ada ketakutan tersendiri mengapa beliau bertanya hingga ke daerah  yang paling kecil sekalipun. Dan petuah senja pun bergulir, katanya kalau ngasih pinjam buku harus pakai waktu, dicatet berapa lama, kalau sudah jatuh tempo aku disuruhnya mendatangi rumah peminjam *emang dept collector. Deggg...Tuhann,,, please! Untuk pengalihan topik, aku hanya menjawab, “nggih” dengan cengiran lebar.  Well, saat ini aku tak ingin berdebat.

Hari itu aku terengah-engah mencoba menata kembali pola nafas yang tampak tak beraturan setelah mengendarai sepeda ontel sepulang sekolah. Seperti biasa aku menuntunnya hingga ke samping rumah. Hal yang paling aku suka di rumah ini adalah pohon-pohon pete yang berdiri gagah dan rindang di samping rumah yang selalu membuat segalanya menjadi sejuk. Satu tarikan nafas panjang sambil menutup mata mampu melepaskan penat 9 jam rutinitas sekolah. Aku merebahkan diriku di sofa ruang tamu sambil melepaskan tali-tali sepatu,dan om ku datang mengejutkanku. “Ta, setelah kamu sholat, makan, lanjut ngambil dagangan ya!” beliau tersenyum membuat mata sipitnya tak keliahatan. “Sipp!”

Sebelum berangkat, om ku memberi tahu tempat-tempat yang harus aku tuju. Ada dua tempat berbeda yang harus aku tuju yang keduanya tak berdekatan jaraknya. Satu hal yang aku syukuri mengapa aku dibesarkan di kota ini adalah orang-orang tak akan menganggap aku aneh hanya karena aku naik sepeda onthel karena pada umumnya masyarakat menggunakan itu sebagai alat transportasi. Makanya udara di kota ini terbilang sejuk dan masih asri, namanya saja Sragen Asri.

Aku hampir tak pernah menolak apabila disuruhnya pergi ke suatu tempat untuk sebuah alasan, karena ini merupakan salah satu cara buatku untuk sedikit merasakan yang namanya “melancong”. Toko pertama yang aku tuju dekat dengan perempatan jalan raya Sukowati tepatnya di sebelah kanan jalan sebelum lampu lalu lintas. Si empunya toko sudah tak heran lagi kenapa aku yang mengambil dagangan, cukup menyebutkan “Lik Penggo” tanpa banyak cingcong dia langsung mengambilkan catatan dagangan beserta hasil yang diperoleh untuk hari ini. Jika dagangan masih ada, biasanya juga selalu dikembalikan. Begitu pula dengan tempat kedua, tanpa banyak masalah aku segera mendapat kepercayaan dari empunya toko. Mungkin semua orang Cina gitu kali ya, kalau udah percaya dia nggak bakal bertanya kedua kali, batinku.

Kali ini aku agak kesulitan membawa uang hasil dagangan, karena ada uang receh yang aku genggam. Jadi satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah menaruh uang itu di dalam kantong plastik keranjang yang aku kaitkan (cantholkan) di stang sepeda. Alhasil, ketika pedal aku kayuh, suara yang tak diinginkan pun muncul, cring ...cring...cring . Aku gelagepan ngeliat orang-orang yang berjalan dipinggir jalan menoleh, mungkin mereka mengira aku membunyikan bel sepeda. Ampunn deh, aku tak berpikir sebelumnya akan  seperti ini.

Sepanjang perjalanan aku benar-benar harus menahan malu, dan bersyukur ketika ada deruman motor lain yang bisa menyamarkan bunyi, cring...cring...cring.

Aku sampai di rumah tepat ketika om ku berada di pelataran menyambutku dengan mata sipitnya yang hampir tak kelihatan ketika dia mencoba menertawakan bunyi aneh itu dari kejauhan. Well, aku tak ingin berlama-lama memegang uang dagangan dan menyerahkan buku catatan kecil dari tiap toko. Aku memasuki ruang tamu dan mencoba mengatur nafas sambil merebahkan diri di sofa, dan usaha relaksasiku itu digagalkan dengan kemunculan om ku dari kamar belakang sambil membolak-balik buku catatan itu. Aku langsung terkesiap dan mulai bingung tak biasa dia seperti itu.

“Ita,,, ini totalnya 65.200, hla trus 200 peraknya mana?” aku gelagepan ditanyain seperti itu. Gelagepan bukan karena aku merasa salah, tapi aku gelagepan karena aku benar-benar yakin uang receh itu menemaniku sepanjang jalan tadi. Aku mulai mengingat kembali, dan satu-satunya yang aku ingat adalah kantong plastik. Yup, kantong plastik.

“Om, kantong plastik tempat keranjangnya mana?” aku segera berlari kecil menuju pawon (dapur dalam bahasa jawa) dan mendapati kantong plastik itu berada di tumpukan keranjang dagangan yang lain. Tanpa berpikir panjang, aku segera membuka kantong, dan menemukan 200 perak nyengir di dalamnya. Tuhan, 200 perak masih rejeki om ku ternyata. Ada perasaan lega tak dapat aku jelaskan. Agak tergopoh-gopoh aku menyerahkan 200 perak itu ke om ku. “Nah, ini buat celengan”. Aku hanya melongo melihatnya melenggang pergi.

Aku tak menyangka insiden 200 perak itu memberikanku sugesti hingga saat ini. Karena insiden itu aku mungkin menjadi orang yang aneh bin ajaib yang selalu girang bila menemukan recehan dimanapun. Mungkin itu adalah insiden yang paling berkesan dalam dunia “keuangan”. Well, aku belajar banyak dari 200 perak itu. Tepatnya bukan belajar dari 200 perak, tetapi dari sosok Tan Peng Ho.

Tuhan mungkin menitipkan beliau di bumi untuk memberikan warna yang berbeda, dan berhasil. Buktinya, warna beliau belum tergantikan dengan siapapun. Hingga kini kawan, aku masih mempersoalkan recehan. Recehan yang sangat berarti untukku. Recehan yang selalu membuatku nyengir saat aku mendapatinya ditolak sang pemilik. Recehan bagi orang seperti Tan Peng Ho adalah awal dimana gunung emas itu terbentuk. Recehan yang bisa memulai sebagai puzzle terbentuknya uang sejuta. Tanpa seratus perak, tak akan terbentuk sejuta kata beliau. Tampaknya Tuhan mematri indah memori recehan itu hingga saat ini.

Saat ini aku sedang mengantri di salah satu jejeran kasir di pusat perbelanjaan C*RE*F*R* Makassar. Tak membutuhkan waktu hingga aku berada di antrian kedua. “Mba, ini kembaliannya” aku melihat mba kasir menyerahkan beberapa uang recehan kepada ibu di depanku. “nggak usah mba!” sambil mengangkat belanjaanya dia melenggang pergi.

Memori recehan itu seketika muncul di permukaan, “Andaikan itu om ku, mungkin dia bakal tersenyum dan mengambil recehan itu.” Mungkin dia merasa tak memerlukan recehan atau merasa gengsi kali ya, pikirku. Tak hanya sekali aku mendapati kasus seperti itu. Aku janjian dengan beberapa temanku hari ini untuk nonton salah satu film yang memang sudah menjadi incaran sejak lama. Kembali kepada adegan mengantri karcis nonton, aku melihat uang 500 perak jatuh di lantai dan aku yakin itu milik orang yang sedang mengantri di depanku. Dia hanya menoleh ke recehan itu sejenak, dan mengatakan “biarin”. Yahhh,,, biarin! Katanya.

Kejadian recehan tampaknya hari ini menjadi trending topik dalam catatanku sendiri kala itu. Frekuensi kejadian recehan tak dianggap, recehan yang terbuang, atau recehan yang tak diinginkan kembali terulang. Rol perekam di kepalaku mulai berputar dan menayangkan kembali uang 200 perak itu. Yup, mungkin Tan Peng Ho adalah satu-satunya orang yang tulus mengakui recehan sebagai miliknya.

Aku mulai melakukan observasi kecil-kecilan. Awalnya di mal kota ini, berlanjut ke sekolahku sendiri hingga beberapa teman-temanku. Dan kebanyakan mereka cuek bebek dengan recehan. Yup, gengsi! Itu yang bisa aku tafsirkan dari pengakuan mereka. Gengsi? Sebuah kata milik orang indonesia kebanyakan kali ya? Apa aku terlalu kejam bertanya seperti itu? Apa aku terlalu blak-blakan? Aku jujur bukan? Cina-cina itu tak melakukan hal sama seperti kita orang Indonesia Kebanyakan, bukankah begitu? Kadang kita perlu untuk menoleh sedikit kepada yang yang tersepelekan, seperti recehan. Yup, recehan. Hal kecil yang bisa membuatmu milioner, kata Tan Peng Ho. Seperti kalimat, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit itu bukan?

Hari ini aku belajar banyak dari sosok Tan Peng Ho. Dan dalam waktu yang sama, tampaknya Tuhan tak memberikanku waktu lagi untuk bertemu dengan beliau. Beliau sudah damai bersama Tuhan. Sepeninggalannya, tanteku menunjukkan kepada ibuku peninggalannya. Luar biasa. Gunung emas yang diceritakannya telah menjadi nyata saat ini. Walaupun bukan gunung emas sungguhan, tetapi cukuplah yang bisa membuatku merinding saat ibuku menceritakannya kembali kepadaku. Saat celengan tembikar sebesar singa itu penuh dan dipecahkan, ibuku pun menyaksikannya. Emas ratusan gram, rumah yang lumayan besar, dan celengan tembikar itu adalah benda yang tak diketahui sebelumnya oleh tanteku. Incredible bukan?

Recehan dapat membuatmu menjadi seorang milioner, kata-kata ini kembali berdenging di telingaku. Aku merasakan resleting dompetku sesak dan lumayan berat. Berat bukan karena uang berwarna merah atau biru. Saat aku membuka dompet seketika recehan menghambur keluar. Aku merasakan beberapa detik kehadiran Tan Peng Ho di dekatku. Tuhan, sampaikan kepadanya bahwa aku belajar banyak dari 200 perak miliknya.

No comments:

Post a Comment