Tan Peng Ho. Tiga suku kata itu yang aku baca di
amplop berwarna merah terang yang aku dapatkan di dalam laci meja belajar dekat
ruang tamu. Aku tak menyangka itu nama lengkap pamanku yang selalu aku panggil
Lik Penggo. Well, jika melihat dari tiga suku kata itu, sangat familiar dengan
ejaan suku kata negeri tirai Bambu, Cina. Dan memang tampaknya om ku itu orang
Cina kental dengan segala penampakan oriental yang bisa kamu lihat dari sisi
manapun.
Saat itu aku sudah duduk di bangku kelas 7 SMP. Aku
terdampar di rumah beliau disebabkan suatu hal. Aku satu-satunya anak dari
sepasang orang tua keturunan Sragen-Wonogiri yang menuntut ilmu di negeri gemah
ripah loh jinawi ini. Mungkin karena aku seorang perempuan mereka tak sampai
hati meninggalkanku di rumah sendiri, walaupun aku mempunyai rumah yang tak
jauh dari rumah om ku itu.
Tan Peng Ho telah menikah dengan adik perempuan dari
garis keturunan orangtua ayahku. Dan dia resmi menjadi keluargaku jauh sebelum
aku dilahirkan. Alhasil, aku mempunyai satu-satunya kerabat berketurunan Cina
itu. See? Tuhan Maha Bakat menjodoh-jodohkan, dan mempertemukan mereka dalam
biduk rumah tangga yang indah.
Orangtuaku mengantarkanku ke rumah beliau.
Sesampainya di sana, dengan segala keramahan yang dimiliki om ku itu, dia
menyambut kami dengan hangat. Aku bisa melihat itu ketika dia
berbondong-bondong menyuguhkan kami dengan bermacam-macam aneka makanan. Ayahku
membuka percakapan dengan mengatakan alasan mengapa aku harus tinggal bersama
mereka. Kawan, mungkin aku bisa menghitung jari berapa lama tepatnya aku
tinggal bersama orang tuaku sebelumnya. Sangat sedikit dari jumlah normal anak
kebanyakan.
Om ku mempunyai tiga orang anak, satu laki-laki dan
dua anak perempuan. Dan aku rasa, aku tak akan kesepian. Om ku menjelaskan
kepadaku dimana aku bisa menaruh barang-barangku, dan menunjukkan kamarku. Om
ku juga tak lupa menjelaskan tentang hal-hal yang harus aku lakukan selama ada
di dalam pengawasannya. Mulai dari jam berapa aku masuk sekolah, pulang
sekolah, jumlah uang yang harus aku pergunakan,
buku apa yang akan kugunakan, hingga hal-hal yang menyangkut pengeluaran
bulanan pribadiku. Om ku menambahkan bahwa dia akan mengajariku mencatat
pengeluaran pribadiku untuk memastikan aku belajar kedisiplinan sedari dini.
Tampaknya aku harus manggut-manggut tanda persetujuan dan aku bisa melihat
betapa puasnya dia menyerahkan diriku kepada beliau. Waktu cepat banget
berlalu, tak terasa orang tuaku pamit pulang dan meninggalkanku di sini mulai
malam ini. Mataku mulai berkabut.
Bukan untuk pertama kalinya aku bertemu dengan om ku
ini. Aku sudah akrab dengannya sejak kecil. Beliau sangat menyukai anak kecil.
Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengan beliau, saat itu aku masih
balita. Aku diboncengnya keliling kota Sragen, dan ujung-ujungnya ke sebuah
toko yang lumayan besar. Satu kotak susu berukuran besar dia belikan untukku.
Perlakuan istimewanya itu ditujukan untuk semua kerabatnya terutama yang masih
kecil-kecil. Om ku yang baik.
Tanpa terasa aku sudah berbulan-bulan tinggal di
rumah beliau. Kegiatan sehari-hariku lumayan padat mengingat aku “numpang” di
rumah orang. Walaupun aku dimanjakan om ku itu, aku tak mungkin berongkang-ongkang
kaki di rumah ini. Mulai dari bersekolah hingga duduk berjam-jam di depan dua
kompor panas membuat kulit sosis, risoles, lumpia, keroket, arem-arem hingga
martabak. Yahh,,, om ku membuka usaha kuliner kawan. Selain itu, aku juga
membantu mengambil hasil dagangan yang dititipkan di toko-toko kuliner di kota
ini.
Aku tak pernah berpikir bahwa menjadi pengusaha
industri rumahan seperti ini adalah hal yang rendah. Kalian salah jika berpikir
begitu. Aku juga belajar mengutak-utik total modal dan laba yang dapat
dikeluarkan dan didapatkan dalam perharinya, hasilnya lumayan untuk memasukkan
kedua anaknya ke perguruan tinggi. Dari sini aku belajar untuk mengubah mind
set kuno tentang “pengusaha”.
Mungkin aku terlalu usil kali ya, sampai-sampai aku
menanyakan alasan beliau mengapa memilih usaha kuliner. Beliau tak
tanggung-tanggung bercerita kepadaku tentang profesi awalnya sebelum menikah
dengan tanteku. Beliau dulu seorang makelar yang bangkrut. Bangkrut adalah kata
yang paling kejam menurutku untuk seorang dermawan seperti beliau. Beliau
merintis usaha kuliner dengan bermodalkan majalah yang mencantumkan resep
kue-kue gorengan dan memulainya dengan penuh kesabaran bersama tanteku. Seperti
yang kulihat saat ini, tak ada guratan-guratan kesedihan saat menceritakan
kisahnya kepadaku. Nada suaranya datar-datar saja seakan hal itu tak menjadi
masalah untuknya.
Pukul 16.00 wib. Aku sedang ngobrol dengan seorang
sahabat yang juga tetangga jika aku tinggal di rumahku sendiri. Ahh,,,kangen
juga rasanya karena aku hanya sibuk dengan segala kedisiplinan yang lumayan
membelenggu masa kanak-kanakku dan aku harus mengakui aku kangen ketawa ketiwi
dengan makhluk satu ini. Dia mengembalikan buku yang sudah lama dipinjamnya.
Setelah berceloteh sekian lama akhirnya dia pun beranjak pulang. Ada sepi yang
menyelinap di celah-celah keterasinganku di sini. Yahh,,, setidaknya aku bisa
bertemu teman-temanku di sekolah.
Aku sedang mengatur buku-bukuku di rak ketika om ku
menyapaku dari belakang. “Ta, bukumu dipinjam berapa hari?” saat aku sadar
pertanyaan itu muncul, aku menjawab terbata, “2 minggu om”. Ada ketakutan
tersendiri mengapa beliau bertanya hingga ke daerah yang paling kecil sekalipun. Dan petuah senja
pun bergulir, katanya kalau ngasih pinjam buku harus pakai waktu, dicatet
berapa lama, kalau sudah jatuh tempo aku disuruhnya mendatangi rumah peminjam
*emang dept collector. Deggg...Tuhann,,, please! Untuk pengalihan topik, aku
hanya menjawab, “nggih” dengan cengiran lebar.
Well, saat ini aku tak ingin berdebat.
Hari itu aku terengah-engah mencoba menata kembali
pola nafas yang tampak tak beraturan setelah mengendarai sepeda ontel sepulang
sekolah. Seperti biasa aku menuntunnya hingga ke samping rumah. Hal yang paling
aku suka di rumah ini adalah pohon-pohon pete yang berdiri gagah dan rindang di
samping rumah yang selalu membuat segalanya menjadi sejuk. Satu tarikan nafas
panjang sambil menutup mata mampu melepaskan penat 9 jam rutinitas sekolah. Aku
merebahkan diriku di sofa ruang tamu sambil melepaskan tali-tali sepatu,dan om
ku datang mengejutkanku. “Ta, setelah kamu sholat, makan, lanjut ngambil
dagangan ya!” beliau tersenyum membuat mata sipitnya tak keliahatan. “Sipp!”
Sebelum berangkat, om ku memberi tahu tempat-tempat
yang harus aku tuju. Ada dua tempat berbeda yang harus aku tuju yang keduanya
tak berdekatan jaraknya. Satu hal yang aku syukuri mengapa aku dibesarkan di
kota ini adalah orang-orang tak akan menganggap aku aneh hanya karena aku naik
sepeda onthel karena pada umumnya masyarakat menggunakan itu sebagai alat
transportasi. Makanya udara di kota ini terbilang sejuk dan masih asri, namanya
saja Sragen Asri.
Aku hampir tak pernah menolak apabila disuruhnya
pergi ke suatu tempat untuk sebuah alasan, karena ini merupakan salah satu cara
buatku untuk sedikit merasakan yang namanya “melancong”. Toko pertama yang aku
tuju dekat dengan perempatan jalan raya Sukowati tepatnya di sebelah kanan
jalan sebelum lampu lalu lintas. Si empunya toko sudah tak heran lagi kenapa
aku yang mengambil dagangan, cukup menyebutkan “Lik Penggo” tanpa banyak
cingcong dia langsung mengambilkan catatan dagangan beserta hasil yang
diperoleh untuk hari ini. Jika dagangan masih ada, biasanya juga selalu
dikembalikan. Begitu pula dengan tempat kedua, tanpa banyak masalah aku segera
mendapat kepercayaan dari empunya toko. Mungkin semua orang Cina gitu kali ya,
kalau udah percaya dia nggak bakal bertanya kedua kali, batinku.
Kali ini aku agak kesulitan membawa uang hasil
dagangan, karena ada uang receh yang aku genggam. Jadi satu-satunya cara yang
bisa aku lakukan adalah menaruh uang itu di dalam kantong plastik keranjang yang
aku kaitkan (cantholkan) di stang sepeda. Alhasil, ketika pedal aku kayuh,
suara yang tak diinginkan pun muncul, cring
...cring...cring . Aku gelagepan ngeliat orang-orang yang berjalan
dipinggir jalan menoleh, mungkin mereka mengira aku membunyikan bel sepeda.
Ampunn deh, aku tak berpikir sebelumnya akan
seperti ini.
Sepanjang perjalanan aku benar-benar harus menahan
malu, dan bersyukur ketika ada deruman motor lain yang bisa menyamarkan bunyi, cring...cring...cring.
Aku sampai di rumah tepat ketika om ku berada di
pelataran menyambutku dengan mata sipitnya yang hampir tak kelihatan ketika dia
mencoba menertawakan bunyi aneh itu dari kejauhan. Well, aku tak ingin
berlama-lama memegang uang dagangan dan menyerahkan buku catatan kecil dari
tiap toko. Aku memasuki ruang tamu dan mencoba mengatur nafas sambil merebahkan
diri di sofa, dan usaha relaksasiku itu digagalkan dengan kemunculan om ku dari
kamar belakang sambil membolak-balik buku catatan itu. Aku langsung terkesiap
dan mulai bingung tak biasa dia seperti itu.
“Ita,,, ini totalnya 65.200, hla trus 200 peraknya
mana?” aku gelagepan ditanyain seperti itu. Gelagepan bukan karena aku merasa
salah, tapi aku gelagepan karena aku benar-benar yakin uang receh itu
menemaniku sepanjang jalan tadi. Aku mulai mengingat kembali, dan satu-satunya
yang aku ingat adalah kantong plastik. Yup, kantong plastik.
“Om, kantong plastik tempat keranjangnya mana?” aku segera
berlari kecil menuju pawon (dapur dalam bahasa jawa) dan mendapati kantong
plastik itu berada di tumpukan keranjang dagangan yang lain. Tanpa berpikir
panjang, aku segera membuka kantong, dan menemukan 200 perak nyengir di
dalamnya. Tuhan, 200 perak masih rejeki om ku ternyata. Ada perasaan lega tak
dapat aku jelaskan. Agak tergopoh-gopoh aku menyerahkan 200 perak itu ke om ku.
“Nah, ini buat celengan”. Aku hanya melongo melihatnya melenggang pergi.
Aku tak menyangka insiden 200 perak itu memberikanku
sugesti hingga saat ini. Karena insiden itu aku mungkin menjadi orang yang aneh
bin ajaib yang selalu girang bila menemukan recehan dimanapun. Mungkin itu
adalah insiden yang paling berkesan dalam dunia “keuangan”. Well, aku belajar
banyak dari 200 perak itu. Tepatnya bukan belajar dari 200 perak, tetapi dari
sosok Tan Peng Ho.
Tuhan mungkin menitipkan beliau di bumi untuk
memberikan warna yang berbeda, dan berhasil. Buktinya, warna beliau belum
tergantikan dengan siapapun. Hingga kini kawan, aku masih mempersoalkan
recehan. Recehan yang sangat berarti untukku. Recehan yang selalu membuatku
nyengir saat aku mendapatinya ditolak sang pemilik. Recehan bagi orang seperti
Tan Peng Ho adalah awal dimana gunung emas itu terbentuk. Recehan yang bisa memulai
sebagai puzzle terbentuknya uang sejuta. Tanpa seratus perak, tak akan
terbentuk sejuta kata beliau. Tampaknya Tuhan mematri indah memori recehan itu
hingga saat ini.
Saat ini aku sedang mengantri di salah satu jejeran
kasir di pusat perbelanjaan C*RE*F*R* Makassar. Tak membutuhkan waktu hingga
aku berada di antrian kedua. “Mba, ini kembaliannya” aku melihat mba kasir
menyerahkan beberapa uang recehan kepada ibu di depanku. “nggak usah mba!”
sambil mengangkat belanjaanya dia melenggang pergi.
Memori recehan itu seketika muncul di permukaan,
“Andaikan itu om ku, mungkin dia bakal tersenyum dan mengambil recehan itu.”
Mungkin dia merasa tak memerlukan recehan atau merasa gengsi kali ya, pikirku.
Tak hanya sekali aku mendapati kasus seperti itu. Aku janjian dengan beberapa
temanku hari ini untuk nonton salah satu film yang memang sudah menjadi incaran
sejak lama. Kembali kepada adegan mengantri karcis nonton, aku melihat uang 500
perak jatuh di lantai dan aku yakin itu milik orang yang sedang mengantri di
depanku. Dia hanya menoleh ke recehan itu sejenak, dan mengatakan “biarin”.
Yahhh,,, biarin! Katanya.
Kejadian recehan tampaknya hari ini menjadi trending
topik dalam catatanku sendiri kala itu. Frekuensi kejadian recehan tak
dianggap, recehan yang terbuang, atau recehan yang tak diinginkan kembali
terulang. Rol perekam di kepalaku mulai berputar dan menayangkan kembali uang
200 perak itu. Yup, mungkin Tan Peng Ho adalah satu-satunya orang yang tulus
mengakui recehan sebagai miliknya.
Aku mulai melakukan observasi kecil-kecilan. Awalnya
di mal kota ini, berlanjut ke sekolahku sendiri hingga beberapa teman-temanku.
Dan kebanyakan mereka cuek bebek dengan recehan. Yup, gengsi! Itu yang bisa aku
tafsirkan dari pengakuan mereka. Gengsi? Sebuah kata milik orang indonesia
kebanyakan kali ya? Apa aku terlalu kejam bertanya seperti itu? Apa aku terlalu
blak-blakan? Aku jujur bukan? Cina-cina itu tak melakukan hal sama seperti kita
orang Indonesia Kebanyakan, bukankah begitu? Kadang kita perlu untuk menoleh
sedikit kepada yang yang tersepelekan, seperti recehan. Yup, recehan. Hal kecil
yang bisa membuatmu milioner, kata Tan Peng Ho. Seperti kalimat, sedikit demi
sedikit lama-lama menjadi bukit itu bukan?
Hari ini aku belajar banyak dari sosok Tan Peng Ho.
Dan dalam waktu yang sama, tampaknya Tuhan tak memberikanku waktu lagi untuk
bertemu dengan beliau. Beliau sudah damai bersama Tuhan. Sepeninggalannya,
tanteku menunjukkan kepada ibuku peninggalannya. Luar biasa. Gunung emas yang
diceritakannya telah menjadi nyata saat ini. Walaupun bukan gunung emas
sungguhan, tetapi cukuplah yang bisa membuatku merinding saat ibuku
menceritakannya kembali kepadaku. Saat celengan tembikar sebesar singa itu
penuh dan dipecahkan, ibuku pun menyaksikannya. Emas ratusan gram, rumah yang
lumayan besar, dan celengan tembikar itu adalah benda yang tak diketahui
sebelumnya oleh tanteku. Incredible bukan?
Recehan
dapat membuatmu menjadi seorang milioner, kata-kata ini
kembali berdenging di telingaku. Aku merasakan resleting dompetku sesak dan
lumayan berat. Berat bukan karena uang berwarna merah atau biru. Saat aku
membuka dompet seketika recehan menghambur keluar. Aku merasakan beberapa detik
kehadiran Tan Peng Ho di dekatku. Tuhan, sampaikan kepadanya bahwa aku belajar
banyak dari 200 perak miliknya.

No comments:
Post a Comment