Bapak. Kata Nabi Muhammad SAW, urutan pertama hingga
ketiga diduduki oleh ibu dan setelah itu bapak. Tapi, salahkah aku jika aku
menempatkan bapak dikedudukan nomor satu bersanding dengan ibu? Aku rasa
keputusanku ini bukan hal yang musti diperdebatkan karena aku mempunyai alasan
untuk itu.
Well, aku mungkin tidak akan berbicara mengenai ibu,
dan aku berharap ibuku di rumah tidak akan cemburu ketika pikiranku saat ini
terpusat pada sosok bapak. Saat ini aku berada di ruang-ruang kecilku di antara
kenangan-kenangan indah tentang bapak. Mungkin insiden beberapa hari yang lalu
mendorongku untuk sedikit bertutur di catatan kecilku ini.
Catatan ini untuknya. Untuk laki-laki gagah dan kuat
yang aku cintai. Untuknya yang tak pernah membentakku kalau aku salah. Well,
mungkin orang-orang selain aku lebih memilih untuk menulis tentang ibu, namun
aku kali ini menolak untuk itu. Yahh,,, mungkin saatnya aku berapresiasi untuk
laki-laki yang membesarkanku itu.
Aku bisa mendengarkan detak-detak jam weker di
kamarku. Dan percaya, hanya itu yang aku dengarkan. Dan konsentrasiku tak
sengaja berpusat pada jarum yang bergerak konstan membentuk sudut-sudut di
antara jarum pendek dan jarum panjang. Aku masih mengingat rona wajah dan sinar
matanya yang dingin. Sore itu, aku mendapatkan perlakuan yang mungkin
semestinya aku dapatkan. Tuhan, sumpah,,, saat itu aku benar-benar lebih
memilih suatu urusan yang aku anggap sangat penting ketimbang menemaninya di
rumah makan kecil kami. Dan entahlah, aku tak merasa bersalah mengingat hal ini
sudah aku pertimbangkan. Alhasil, aku dicuekin. Walaupun aku merasa tak salah
namun rasanya nyesekk banget kawan. Tak terasa pandanganku mulai berkabut saat
itu.
Marah. Yahh,,, tampak seperti itu. Aku baru nyadar,
sebuah kemarahan yang paling pahit adalah bukan kemarahan yang dilontarkan
dengan bentakan, bukan kemarahan yang diwakilkan dengan kekerasan fisik, namun
bagiku kemarahan paling menyakitkan adalah saat bapakku tak mengacuhkanku.
Dingin.
Kini aku berada di ruangan pribadiku di antara gerak
jarum jam weker dan detaknya itu sendiri. Mereka membawaku ke sebuah ruangan
luas yang aku sebut “kenangan”. Well, siapa sangka aku disebut “Anak bapak banget”
ini sih kata siapapun yang mengenalku dan bapakku. Bangga? Yup, bangga banget.
Siapa yang mengira aku lebih memilih menjadi “anak bapak” ketimbang ibu?
Hehehe, durhaka banget ya?
Aku hanya bergurau. Aku bukannya lebih memilih
menjadi anak bapak, tetapi sungguh aku sungguh bangga menjadi penyandang nama bapak.
Yup, nama bapakku terselip di belakang namaku. Bangga. Bangga untuknya yang
sebenarnya bukan siapa-siapa di sudut pandang orang lain.
Saat aku masih kecil aku kecanduan dengan 3 hal.
Yang pertama artis wanita yang cantik menurutku saat itu yang bernama Ita
Purnamasari, kedua coklat batang yang lagi ngetrend banget saat itu hingga kini
yang di dalamnya ada kacang metenya, dan yang ketiga adalah tangga eskalator.
Untuk yang pertama, artis yang bernama Ita
Purnamasari. Saat itu bagiku Ita Purnamasari adalah artis wanita yang cantik
banget. Saking cantiknya aku merengek meminta namaku diganti menjadi ita
Purnamasari. Kebetulan keluarga dan teman-teman dekat saat itu memanggilku
“ita”. Yup, nanggung banget kan? Kok nggak sekalian “Ita Purnamasari” saja?
Teriakku merengek. Alhasil, kakak perempuanku satu-satunya ngotot menjelaskan
bahwa namaku bukan “Ita Purnamasari”. Namanya juga anak kecil, kalau sudah
ngambek, ngerengek, bahkan sampe nangis. Namun hasilnya nihil. Namaku tetap
bukan Ita Purnamasari.
“Bapak, namaku ganti jadi Ita purnamasari ya?” aku
masih merajuk. Beliau menatapku beberapa detik dan tertawa. “Kamu tidak suka
nama yang bapak berikan?” aku masih teramat kecil untuk menjawab dengan jawaban
sempurna. Pertanyaan beliau membuatku terdiam dan berhenti merajuk. Entahlah,
dan mulai saat itu aku berhenti meminta berganti nama. Bukan berarti aku mulai
terbiasa dengan nama asliku, bukan. Bahkan saat masih duduk di bangku SD, aku
masih bengong saat diabsen guru.
Di posisi runner up ditempati coklat yang berisi
kacang mete. Coklat itu menyihirku dengan iklannya yang sukses membuatku ngiler
abis. Iklan coklat itu menampilkan beberapa remaja yang sedang naik balon udara
sambil membuka kertas aluminium foil pembungkus coklat dan menggigitnya
perlahan. Adegan itu berhasil membuatku melongo beberapa detik tak beranjak
dari depan televisi 15 inci itu. Yup,
kontan aku berlari menuju warung yang paling besar yang berada di kompleksku
dan berkata, “Buuuu,,, mau beli coklat cillfellkuiin..!” si empunya warung
terlihat berpikir sejenak berusaha mencerna kalimatku dan meyakinkan dirinya
bahwa barang yang aku maksud benar-benar tak ada di warungnya.Dengan langkah
gontai aku kembali ke rumah dan aku tahu kepada siapa aku harus merajuk. Bapak.
Aku dapati beliau yang sedang bersantai menonton
televisi saat itu. Ego seorang toodler, aku mulai merajuk dan membujuk beliau
sedapat mungkin. Well, aku berhasil. Malamnya aku dan bapak pergi berdua ke
supermarket yang menyediakan coklat kacang mete itu. Aku masih mengingat saat
beliau menggendongku dengan satu tangan dan mulai bernyanyi untukku di
sepanjang perjalanan. Kami berdua memasuki supermarket yang cukup besar di
kawasan kota Makassar, aku lupa tepatnya dimana. Aku langsung turun dari
gendongan beliau dan berhambur mencari-cari rak coklat. Jauh-jauh ke
supermarket cuma beli satu benda. Coklat berisi kacang mete. Dan yang lebih
utama, hanya untuk aku. Hanya untukku.
Sesampainya di rumah dengan tak sabar aku membuka
kertas alumunium foil yang membungkus coklat itu dan menggigitnya perlahan
dengan alasan takut habis. Well, mulai saat itu aku benar-benar terkena candu
coklat hingga saat ini.
Hal ketiga yang menjadi canduku saat balita adalah
tangga eskalator. Yahh,,, siapa yang mengira aku kena sihir eskalator. Saat
itu, di Kota Makassar didirikan departement store besar yang menyediakan
fasilitas tangga eskalator. Kala itu, aku dan keluarga sedang jalan-jalan di
situ. Yahh, namanya juga baru pertama kali, bapakku agak canggung tampaknya.
Sebelum menaiki tangga itu, aku menolak untuk digendong dan minta untuk
diturunkan. Padahal aku doyan banget digendong.
Aku heran awalnya kok bisa ada tangga ke bawah dan
ke atas yang jalan sendiri. Tanpa rasa takut aku menaiki tangga pertama, dan
cukup berdiam diri kami sudah sampai di lantai yang kami inginkan. Kayak kena
sirep (sihir), saat nyampe di lantai yang diinginkan aku merengek minta naik
eskalator lagi, lagi dan lagi. Dan aku juga tak menyangka bapakku mau menuruti
kegilaanku. Well, beliau hanya tertawa.
Ternyata kegilaanku tentang eskalator tak berhenti
di situ saja. Pagi ini dan masih sangat pagi saat ayam berkokok memecah
mimpi-mimpi indah di kompleksku, ibuku berjanji untuk membelikanku baju. Aku
sudah tak sabar saat jarum jam menunjuk pada angka 8 dan aku sudah merengek
untuk segera beranjak menuju toko baju. Akhirnya bapakku menyerah juga.
Lagi-lagi aku dan bapak. Hang out terpagi yang pernah ada.
Sesampainya di toko baju, hal pertama yang aku
tanyakan sebelum kami melangkah melewati pintu, “Bapak, di dalam ada tangga
berjalan tidak (eskalator)?” Dahi beliau berkernyit dan berfikir untuk sesaat.
“Nggak ada ndhuk.” Aku menarik tanganku yang digandengnya. “Nggak mau masuk ita
deh, ke tempat yang ada tangga berjalannya bapak!” alhasil aku tarik-tarikan
tangan di depan toko. Saat itu, aku benar-benar mengacuhkan bujukan ayah.
Menyerah. Dan kami beranjak dari depan toko ketika menyadari orang-orang sudah
berkasak-kusuk menjadikan kami trending topik.
Tepat pukul 08.30 wita saat kami tiba di departemen
store yang pernah aku kunjungi. Saat itu aku belum bisa membaca 6 huruf
alphabet yang tergantung lumayan besar di pintu kaca departement store itu.
Kata ayah bacanya, “CLOSED.” Masih tutup. Bapak ku tak henti-hentinya
membujukku untuk segera kembali ke toko pertama. Aku tetep keukeh dengan
pendirianku. Ingat, aku masih balita saat itu. Aku mulai menangis dan semakin
keras ketika ayah semakin membujuk. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku
mulai duduk lesehan dan akhirnya berguling-guling tak karuan. Mungkin itu demo
versi balita yang hanya aku yang mengamalkannya. Well, aku bisa mendengar nafas
berat beliau. Beliau marah? Aku rasa tidak. Beliau malah mengangkatku dari
lantai dan mendudukkanku di pangkuannya, “Ndhuk, kita tunggu sampai tokonya
buka ya.”
Entahlah, tak perlu rasional untuk memikirkan betapa
aneh atau gilanya masa kecilku. Aku bahkan hanya mempunyai 1 jawaban, menjawab pertanyaan mengapa aku ingin
berganti nama menjadi Ita Purnamasari. Coklat berisi kacang mete yang membuatku
kecanduan hingga kini sampai perkara baju baru yang sebenarnya tak ada
sangkut-pautnya dengan tangga eskalator. Mengingat ketiga hal itu, hanya
mengingatkanku pada satu sosok. Malaikat tanpa sayap yang diciptakan Tuhanku
untukku. Bapakku.
Sebenarnya ketiga kegilaan itu belum bisa menjadi representasi sosok beliau dan
kenangan itu. Jangan bertanya mengapa aku ingat ketiga hal di atas saat usiaku
masih sangat kecil. Aku juga tak tahu mengapa. Mungkin Tuhan membingkai indah
ketiga kenangan tersebut di kotak memori pada sebuah tempat yang nggak ada
sesuatu yang mampu menggesernya.
Detak-detak jarum jam weker menjadi satu-satunya
pemantik kenangan itu. Aku masih berkutat di kenangan itu walau tanpa sadar
bulir-bulir yang dihasilkan kelenjar lakrimale telah jatuh perlahan.
Aku dan bapakku, seperti amplop sama perangko. Kalau
ada bapak pasti ada aku. Saat itu, saat masih balita aku diajaknya berjualan
topi keliling. Yah,,,hanya aku dan bapak. Dan sepulangnya dari berjualan aku
dihadiahinya sate ayam. Aku menemaninya berjualan mie goreng di pasar, makan
coto makassar, bahkan menemaninya bermain bola dan melatih Skuad Jawa Fc di
lapangan Karebosi Makassar. Yahh,,, hanya aku dan bapak. Dari masa-masa sulit
hingga masa ketika kami tertawa di tengah himpitan ekonomi saat itu.
Namun, saat itu aku masih ingat ketika aku ngaji
pertama kali dan mengenal huruf-huruf hijaiyah aku mulai belajar mengaji dan
berdoa memohon kepada Tuhan bahwa suatu saat nanti aku akan bersama bapak dalam
kondisi yang lebih baik dari saat itu. Dan Alhamdulillah, terbukti.
Tuhan tak hanya menciptakan “kebersamaan”, Dia juga
menciptakan “Perpisahan”. Pahit rasanya aku harus berpisah dari bapak selama 6
tahun di Pulau Jawa. Walau pada akhirnya keberadaanku di sana adalah momen
terindah yang pernah ada karena aku diberikan kesempatan untuk mengenal sesuatu
yang baru, suasana baru, dan sahabat yang berbeda tentunya. Aku juga masih
mengingat ketika bapakku nyasar di Sekolah Menengah Pertamaku yang katanya
orang luas banget. Tuh kan, anak sama
bapak sama aja, gampang nyasar.
Aku marah sama bapak. Satu-satunya kemarahan yang
tak pernah tega aku utarakan. Kepindahanku kembali ke Makassar. Beliau
menjemputku dan seketika membawaku kembali ke Makassar. Aku takkan membahas
banyak tentang hal ini, karena aku sudah mencoba bersyukur akan hal ini.
Tampaknya Tuhan ingin memberiku surprise kecil di tengah-tengah skenarionya,
mungkin.
Ribet. Makassar atau Jawa? Kalau pertanyaan ini aku
lontarkan, bakal nyulut perdebatan antara kubu aku versus kubu ibu dan bapak.
Hmm,,, well tiap tahun kami selalu mudik sih, dan aku rela mengambil jatah
seminggu lebih banyak dari jumlah libur normal untuk berlama-lama di pulau
gemah ripah loh jinawi itu. Alhasil, aku kena hukum sampai di sekolah tepat
hari pertama aku mengawali pergantian caturwulan saat sekolah dasar. Namun, ada
satu momen yang sumpah, aku nggak bisa lupain. Momen ketika bapakku datang di
tengah hujan deras membawa sekantong apel Malang. Aku bahkan cuma bisa melongo
saat beliau berjalan masuk ke dalam kelas. Ternyata apel itu beliau berikan
kepada wali kelasku yang terkenal garang dengan alasan agar aku tak kena hukuman.
Bapakku hebat. Aku mulai mengucek kedua mataku dan
tersadar saat jarum jam menunjuk pada angka 9. Saat ini aku berdiri di rooftop
ruko berlantai tiga. Ahh,, kakiku masih gemetar. Tuhan, terimakasih dan puji
syukur aku panjatkan kepadamu atas nikmat yang manis ini. Siapa sangka seorang
gembala kambing, pedagang topi keliling, pedagang mie goreng di tengah riuh
rendah pasar , pelatih amatir skuad tim bola, dan tanpa pendidikan sebelumnya
mampu memiliki 2 cabang warung makan dan
tempat yang aku jejaki saat ini? Malaikat tanpa sayap itu, apakah aku bisa
membahagiakannya nanti. Semoga, amin ya Rabb.
No comments:
Post a Comment