Laman

Monday, September 10, 2012

Bapak dan 3 Kegilaan Itu


Bapak. Kata Nabi Muhammad SAW, urutan pertama hingga ketiga diduduki oleh ibu dan setelah itu bapak. Tapi, salahkah aku jika aku menempatkan bapak dikedudukan nomor satu bersanding dengan ibu? Aku rasa keputusanku ini bukan hal yang musti diperdebatkan karena aku mempunyai alasan untuk itu.

Well, aku mungkin tidak akan berbicara mengenai ibu, dan aku berharap ibuku di rumah tidak akan cemburu ketika pikiranku saat ini terpusat pada sosok bapak. Saat ini aku berada di ruang-ruang kecilku di antara kenangan-kenangan indah tentang bapak. Mungkin insiden beberapa hari yang lalu mendorongku untuk sedikit bertutur di catatan kecilku ini. 

Catatan ini untuknya. Untuk laki-laki gagah dan kuat yang aku cintai. Untuknya yang tak pernah membentakku kalau aku salah. Well, mungkin orang-orang selain aku lebih memilih untuk menulis tentang ibu, namun aku kali ini menolak untuk itu. Yahh,,, mungkin saatnya aku berapresiasi untuk laki-laki yang membesarkanku itu.

Aku bisa mendengarkan detak-detak jam weker di kamarku. Dan percaya, hanya itu yang aku dengarkan. Dan konsentrasiku tak sengaja berpusat pada jarum yang bergerak konstan membentuk sudut-sudut di antara jarum pendek dan jarum panjang. Aku masih mengingat rona wajah dan sinar matanya yang dingin. Sore itu, aku mendapatkan perlakuan yang mungkin semestinya aku dapatkan. Tuhan, sumpah,,, saat itu aku benar-benar lebih memilih suatu urusan yang aku anggap sangat penting ketimbang menemaninya di rumah makan kecil kami. Dan entahlah, aku tak merasa bersalah mengingat hal ini sudah aku pertimbangkan. Alhasil, aku dicuekin. Walaupun aku merasa tak salah namun rasanya nyesekk banget kawan. Tak terasa pandanganku mulai berkabut saat itu.

Marah. Yahh,,, tampak seperti itu. Aku baru nyadar, sebuah kemarahan yang paling pahit adalah bukan kemarahan yang dilontarkan dengan bentakan, bukan kemarahan yang diwakilkan dengan kekerasan fisik, namun bagiku kemarahan paling menyakitkan adalah saat bapakku tak mengacuhkanku. Dingin.

Kini aku berada di ruangan pribadiku di antara gerak jarum jam weker dan detaknya itu sendiri. Mereka membawaku ke sebuah ruangan luas yang aku sebut “kenangan”. Well, siapa sangka aku disebut “Anak bapak banget” ini sih kata siapapun yang mengenalku dan bapakku. Bangga? Yup, bangga banget. Siapa yang mengira aku lebih memilih menjadi “anak bapak” ketimbang ibu? Hehehe, durhaka banget ya?

Aku hanya bergurau. Aku bukannya lebih memilih menjadi anak bapak, tetapi sungguh aku sungguh bangga menjadi penyandang nama bapak. Yup, nama bapakku terselip di belakang namaku. Bangga. Bangga untuknya yang sebenarnya bukan siapa-siapa di sudut pandang orang lain.

Saat aku masih kecil aku kecanduan dengan 3 hal. Yang pertama artis wanita yang cantik menurutku saat itu yang bernama Ita Purnamasari, kedua coklat batang yang lagi ngetrend banget saat itu hingga kini yang di dalamnya ada kacang metenya, dan yang ketiga adalah tangga eskalator.

Untuk yang pertama, artis yang bernama Ita Purnamasari. Saat itu bagiku Ita Purnamasari adalah artis wanita yang cantik banget. Saking cantiknya aku merengek meminta namaku diganti menjadi ita Purnamasari. Kebetulan keluarga dan teman-teman dekat saat itu memanggilku “ita”. Yup, nanggung banget kan? Kok nggak sekalian “Ita Purnamasari” saja? Teriakku merengek. Alhasil, kakak perempuanku satu-satunya ngotot menjelaskan bahwa namaku bukan “Ita Purnamasari”. Namanya juga anak kecil, kalau sudah ngambek, ngerengek, bahkan sampe nangis. Namun hasilnya nihil. Namaku tetap bukan Ita Purnamasari.

“Bapak, namaku ganti jadi Ita purnamasari ya?” aku masih merajuk. Beliau menatapku beberapa detik dan tertawa. “Kamu tidak suka nama yang bapak berikan?” aku masih teramat kecil untuk menjawab dengan jawaban sempurna. Pertanyaan beliau membuatku terdiam dan berhenti merajuk. Entahlah, dan mulai saat itu aku berhenti meminta berganti nama. Bukan berarti aku mulai terbiasa dengan nama asliku, bukan. Bahkan saat masih duduk di bangku SD, aku masih bengong saat diabsen guru.

Di posisi runner up ditempati coklat yang berisi kacang mete. Coklat itu menyihirku dengan iklannya yang sukses membuatku ngiler abis. Iklan coklat itu menampilkan beberapa remaja yang sedang naik balon udara sambil membuka kertas aluminium foil pembungkus coklat dan menggigitnya perlahan. Adegan itu berhasil membuatku melongo beberapa detik tak beranjak dari depan televisi  15 inci itu. Yup, kontan aku berlari menuju warung yang paling besar yang berada di kompleksku dan berkata, “Buuuu,,, mau beli coklat cillfellkuiin..!” si empunya warung terlihat berpikir sejenak berusaha mencerna kalimatku dan meyakinkan dirinya bahwa barang yang aku maksud benar-benar tak ada di warungnya.Dengan langkah gontai aku kembali ke rumah dan aku tahu kepada siapa aku harus merajuk. Bapak.

Aku dapati beliau yang sedang bersantai menonton televisi saat itu. Ego seorang toodler, aku mulai merajuk dan membujuk beliau sedapat mungkin. Well, aku berhasil. Malamnya aku dan bapak pergi berdua ke supermarket yang menyediakan coklat kacang mete itu. Aku masih mengingat saat beliau menggendongku dengan satu tangan dan mulai bernyanyi untukku di sepanjang perjalanan. Kami berdua memasuki supermarket yang cukup besar di kawasan kota Makassar, aku lupa tepatnya dimana. Aku langsung turun dari gendongan beliau dan berhambur mencari-cari rak coklat. Jauh-jauh ke supermarket cuma beli satu benda. Coklat berisi kacang mete. Dan yang lebih utama, hanya untuk aku. Hanya untukku.

Sesampainya di rumah dengan tak sabar aku membuka kertas alumunium foil yang membungkus coklat itu dan menggigitnya perlahan dengan alasan takut habis. Well, mulai saat itu aku benar-benar terkena candu coklat hingga saat ini.

Hal ketiga yang menjadi canduku saat balita adalah tangga eskalator. Yahh,,, siapa yang mengira aku kena sihir eskalator. Saat itu, di Kota Makassar didirikan departement store besar yang menyediakan fasilitas tangga eskalator. Kala itu, aku dan keluarga sedang jalan-jalan di situ. Yahh, namanya juga baru pertama kali, bapakku agak canggung tampaknya. Sebelum menaiki tangga itu, aku menolak untuk digendong dan minta untuk diturunkan. Padahal aku doyan banget digendong.

Aku heran awalnya kok bisa ada tangga ke bawah dan ke atas yang jalan sendiri. Tanpa rasa takut aku menaiki tangga pertama, dan cukup berdiam diri kami sudah sampai di lantai yang kami inginkan. Kayak kena sirep (sihir), saat nyampe di lantai yang diinginkan aku merengek minta naik eskalator lagi, lagi dan lagi. Dan aku juga tak menyangka bapakku mau menuruti kegilaanku. Well, beliau hanya tertawa.

Ternyata kegilaanku tentang eskalator tak berhenti di situ saja. Pagi ini dan masih sangat pagi saat ayam berkokok memecah mimpi-mimpi indah di kompleksku, ibuku berjanji untuk membelikanku baju. Aku sudah tak sabar saat jarum jam menunjuk pada angka 8 dan aku sudah merengek untuk segera beranjak menuju toko baju. Akhirnya bapakku menyerah juga. Lagi-lagi aku dan bapak. Hang out terpagi yang pernah ada.
Sesampainya di toko baju, hal pertama yang aku tanyakan sebelum kami melangkah melewati pintu, “Bapak, di dalam ada tangga berjalan tidak (eskalator)?” Dahi beliau berkernyit dan berfikir untuk sesaat. “Nggak ada ndhuk.” Aku menarik tanganku yang digandengnya. “Nggak mau masuk ita deh, ke tempat yang ada tangga berjalannya bapak!” alhasil aku tarik-tarikan tangan di depan toko. Saat itu, aku benar-benar mengacuhkan bujukan ayah. Menyerah. Dan kami beranjak dari depan toko ketika menyadari orang-orang sudah berkasak-kusuk menjadikan kami trending topik.

Tepat pukul 08.30 wita saat kami tiba di departemen store yang pernah aku kunjungi. Saat itu aku belum bisa membaca 6 huruf alphabet yang tergantung lumayan besar di pintu kaca departement store itu. Kata ayah bacanya, “CLOSED.” Masih tutup. Bapak ku tak henti-hentinya membujukku untuk segera kembali ke toko pertama. Aku tetep keukeh dengan pendirianku. Ingat, aku masih balita saat itu. Aku mulai menangis dan semakin keras ketika ayah semakin membujuk. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku mulai duduk lesehan dan akhirnya berguling-guling tak karuan. Mungkin itu demo versi balita yang hanya aku yang mengamalkannya. Well, aku bisa mendengar nafas berat beliau. Beliau marah? Aku rasa tidak. Beliau malah mengangkatku dari lantai dan mendudukkanku di pangkuannya, “Ndhuk, kita tunggu sampai tokonya buka ya.”

Entahlah, tak perlu rasional untuk memikirkan betapa aneh atau gilanya masa kecilku. Aku bahkan hanya mempunyai 1 jawaban,  menjawab pertanyaan mengapa aku ingin berganti nama menjadi Ita Purnamasari. Coklat berisi kacang mete yang membuatku kecanduan hingga kini sampai perkara baju baru yang sebenarnya tak ada sangkut-pautnya dengan tangga eskalator. Mengingat ketiga hal itu, hanya mengingatkanku pada satu sosok. Malaikat tanpa sayap yang diciptakan Tuhanku untukku. Bapakku.

Sebenarnya ketiga kegilaan itu belum  bisa menjadi representasi sosok beliau dan kenangan itu. Jangan bertanya mengapa aku ingat ketiga hal di atas saat usiaku masih sangat kecil. Aku juga tak tahu mengapa. Mungkin Tuhan membingkai indah ketiga kenangan tersebut di kotak memori pada sebuah tempat yang nggak ada sesuatu yang mampu menggesernya.

Detak-detak jarum jam weker menjadi satu-satunya pemantik kenangan itu. Aku masih berkutat di kenangan itu walau tanpa sadar bulir-bulir yang dihasilkan kelenjar lakrimale telah jatuh perlahan.

Aku dan bapakku, seperti amplop sama perangko. Kalau ada bapak pasti ada aku. Saat itu, saat masih balita aku diajaknya berjualan topi keliling. Yah,,,hanya aku dan bapak. Dan sepulangnya dari berjualan aku dihadiahinya sate ayam. Aku menemaninya berjualan mie goreng di pasar, makan coto makassar, bahkan menemaninya bermain bola dan melatih Skuad Jawa Fc di lapangan Karebosi Makassar. Yahh,,, hanya aku dan bapak. Dari masa-masa sulit hingga masa ketika kami tertawa di tengah himpitan ekonomi saat itu.
Namun, saat itu aku masih ingat ketika aku ngaji pertama kali dan mengenal huruf-huruf hijaiyah aku mulai belajar mengaji dan berdoa memohon kepada Tuhan bahwa suatu saat nanti aku akan bersama bapak dalam kondisi yang lebih baik dari saat itu. Dan Alhamdulillah, terbukti.

Tuhan tak hanya menciptakan “kebersamaan”, Dia juga menciptakan “Perpisahan”. Pahit rasanya aku harus berpisah dari bapak selama 6 tahun di Pulau Jawa. Walau pada akhirnya keberadaanku di sana adalah momen terindah yang pernah ada karena aku diberikan kesempatan untuk mengenal sesuatu yang baru, suasana baru, dan sahabat yang berbeda tentunya. Aku juga masih mengingat ketika bapakku nyasar di Sekolah Menengah Pertamaku yang katanya orang luas banget.  Tuh kan, anak sama bapak sama aja, gampang nyasar.

Aku marah sama bapak. Satu-satunya kemarahan yang tak pernah tega aku utarakan. Kepindahanku kembali ke Makassar. Beliau menjemputku dan seketika membawaku kembali ke Makassar. Aku takkan membahas banyak tentang hal ini, karena aku sudah mencoba bersyukur akan hal ini. Tampaknya Tuhan ingin memberiku surprise kecil di tengah-tengah skenarionya, mungkin.

Ribet. Makassar atau Jawa? Kalau pertanyaan ini aku lontarkan, bakal nyulut perdebatan antara kubu aku versus kubu ibu dan bapak. Hmm,,, well tiap tahun kami selalu mudik sih, dan aku rela mengambil jatah seminggu lebih banyak dari jumlah libur normal untuk berlama-lama di pulau gemah ripah loh jinawi itu. Alhasil, aku kena hukum sampai di sekolah tepat hari pertama aku mengawali pergantian caturwulan saat sekolah dasar. Namun, ada satu momen yang sumpah, aku nggak bisa lupain. Momen ketika bapakku datang di tengah hujan deras membawa sekantong apel Malang. Aku bahkan cuma bisa melongo saat beliau berjalan masuk ke dalam kelas. Ternyata apel itu beliau berikan kepada wali kelasku yang terkenal garang dengan alasan agar aku tak kena hukuman.





 Bapakku hebat. Aku mulai mengucek kedua mataku dan tersadar saat jarum jam menunjuk pada angka 9. Saat ini aku berdiri di rooftop ruko berlantai tiga. Ahh,, kakiku masih gemetar. Tuhan, terimakasih dan puji syukur aku panjatkan kepadamu atas nikmat yang manis ini. Siapa sangka seorang gembala kambing, pedagang topi keliling, pedagang mie goreng di tengah riuh rendah pasar , pelatih amatir skuad tim bola, dan tanpa pendidikan sebelumnya mampu memiliki  2 cabang warung makan dan tempat yang aku jejaki saat ini? Malaikat tanpa sayap itu, apakah aku bisa membahagiakannya nanti. Semoga, amin ya Rabb.

No comments:

Post a Comment